Minggu, 28 April 2013


KONSEP PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA; ALTERNATIF SEBAGAI LANDASAN MEWUJUDKAN CITA-CITA PENDIDIKAN INDONESIA YANG HUMANIS







Ki Hadjar Dewantara merupakan tokoh pendidikan nasional, yang perjuangannya dalam dunia pendidikan sangat bermakna bagi kemerdekaan Bangsa Indonesia. Ki Hajar Dewantara Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Lahir dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Beliau berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, disaat itu beliau berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, beliau tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Dengan perjuangan jasa-jasa beliau dulu yang sangat hebat memperjuangkan pendidikan yang merata untuk semua rakyat dan humanis, maka agar untuk mengenang perjuangan beliau yang gigih kemudian kelahirannya beliau dijadikan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) yang biasa kita peringati pada tanggal 2 Mei setiap tahunnya. Hal ini telah menjadi momentum spesial untuk memperingatkan kepada segenap masyarakat negeri akan pentingnya arti dan esensi pendidikan bagi anak negeri yang sangat kaya ini.
Cermin Pendidikan di Indonesia.
Pada tahun 2003, telah dilahirkan Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional melalui UU No. 20 tahun 2003 yang menggantikan UU No. 2 tahun 1989. Tersurat jelas dalam UU tersebut bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.
Ironinya, bahwa pendidikan pada saat ini telah bergeser dari apa yang di amanatkan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional, mengapa demikian? Karena pendidikan sekarang ini sudah menjadi sebuah lahan industri baru yang baru. Bukan lagi sebagai sebuah upaya pembangkitan kesadaran kritis dan sebagai tempat pengembangan potensi-potensi manusia. Sehingga hal ini mengakibatkan terjadinya praktek jual-beli gelar, jual-beli ijasah hingga jual-beli nilai pelajaran (komersialisasi pendidikan). Belum lagi biaya pendidikan sekarang semakin tahun semakin mahal saja, hal tersebut diakibatkan kurangnya dukungan pemerintah terhadap kebutuhan tempat belajar yang layak dan murah. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan banyak tumbuhnya bisnis-bisnis pendidikan yang mau tidak mau semakin membuat rakyat miskin yang tidak mampu semakin terpuruk dan sulit untuk mengakses pendidikan. Karena pendidikan hanyalah bagi mereka yang telah memiliki ekonomi yang kuat, sedangkan bagi kalangan miskin, pendidikan hanyalah sebuah mimpi. Ironinya, ketika ada inisiatif untuk membangun wadah-wadah pendidikan alternatif, sebagian besar dipandang oleh oknum pemerintah sebagai bentuk dan upaya membangun pemberontakan.
Sementara di berbagai daerah, pendidikan pun masih berada dalam kondisi keprihatinan. Mulai dari kekurangan tenaga pengajar, fasilitas pendidikan sampai membuat sukarnya masyarakat untuk mengikuti pendidikan karena permasalahan ekonomi dan kebutuhan hidup. Pada beberapa wilayah, banyak anak-anak yang memiliki keinginan untuk bersekolah, namun mereka harus rela membantu keluarganya untuk mencukupi kebutuhan hidup untuk makan, beli pakaian, dan lain-lain, contohnya saja dapat kita lihat di perempatan-perempatan jalan kota banyak anak-anak kecil yang sewajarnya masih bersenang-senang beramain dengan teman sebayanya dan belajar, harus berganti profesi menajdi peminta-minta atau pengamen di jalanan. Sungguh sangat tidak manusiawi dan ironinya pemerintahpun masih cuek-cuek saja dengan realitas seperti itu. Artinya, bahwa oknum pemerintahan SBY-Budiono telah gagal untuk mencapai kesejahteraan rakyat dan mewujudkan tujuan pendidikan. Belum lagi bila berbicara pada kualitas pendidikan Indonesia yang hanya berorientasi pada pembunuhan kreatifitas berpikir dan berkarya. Sedangkan kurikulum yang ada dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini memang dapat membuat peserta didik menjadi pintar namun tidak menjadi cerdas, kreatif dan terampil. Pembunuhan kreatifitas ini disebabkan pula karena paradigma pemerintah Indonesia yang mengarahkan masyarakatnya pada penciptaan tenaga kerja untuk pemenuhan kebutuhan industri yang sedang gencar-gencarnya ditumbuh suburkan di Indonesia.
Sistem pendidikan nasional yang telah berlangsung hingga saat ini masih cenderung mengeksploitasi pemikiran peserta didik. Indikator yang dipergunakanpun cenderung menggunakan indikator kepintaran (kognitif), sehingga hanya keberhasilan belajar dilihat dari nilai di dalam rapor maupun ijasah tidak serta merta menunjukkan peserta didik akan mampu bersaing maupun bertahan di tengah gencarnya industrialisasi yang berlangsung saat ini. Menurut Prof. Dr. Sutrisno dalam perkulihan filsafat pendidikan pernah menyampaikan bahwa kemampuan pengetahuan kognitif (hard skill) dan kemampuan ketrampilan hidup (soft skill) itu lebih banyak berguna kemampuan soft skill nya, jika dipresentasekan maka hard skill hanya berpengaruh 20% dan 80% nya adalah soft skill. Jika saya meminjam kata-kata dari (Martin Luther King) “Aku tidak peduli berapa lama aku akan hidup dalam sistem ini. Aku akan tidak pernah menerimanya. Aku akan perangi sistem ini sampai mati.” Jadi sudah menjadi keniscayaan bagi dunia pendidikan harus merekonstruksi sistem pendidikan nasional dan kurikulumnya yang sudah gagal dan tidak relevan dengan dunia sekarang. Menuju pada sitem pendidikan nasional yang representatif dengan kebutuhan masyarakat dan tekanan perkembangan zaman globalisasi sekarang ini.
Sorot Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Dalam bentuk perkulihan apapun yang pembahasan tentang pendidikan penulis belum pernah menjumpai pembahasan mengenai konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara. Kabanyakan yang dipakai adalah konsep pendidikan ala barat, Padahal kita semua mengetahui bahwa beliau adalah bapak pendidikan nasional, yang mana beliau adalah seorang pemikir pendidikan asli Indonesia yang telah memperjuangkan pendidikan untuk rakyat dan beliau juga lebih mengetahui harus bagaimana konsep pendidikan untuk Indonesia itu sendiri yang sesuai dengan konteks realita di Indonesia.
Dalam berbagai tulisan tentang pendidikan yang ditulis oleh Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan harus dimulai dari persamaan persepsi pemangku pendidikan tentang mendidik itu sendiri. Menurut Ki Hajar Dewantara mendidik dalam arti yang sesungguhnya adalah proses memanusiakan manusia (humanisasi), yakni pengangkatan manusia ke taraf insani. Di dalam mendidik ada pembelajaran yang merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik kepada manusia, untuk dimiliki, dilanjutkan dan disempurnakan. Jadi sesungguhnya pendidikan adalah usaha bangsa ini membawa manusia Indonesia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual-transenden dari sifat alami manusia (humanis). Ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantoro yang sangat poluler di kalangan masyarakat adalah Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani. Adapun pemikiran beliau melihat pendidikan dari 2 (dua) sudut pandang antara lain:
Dari sudut pandang psikologis, menurut beliau bahwa manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya (humanisasi) ini harus menuntut pengembangan semua daya secara seimbang (proposional). Karena jika pengembangan yang hanya menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidak-utuhan perkembangan sebagai manusia (dehumanisasi). Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Dan ternyata pendidikan sampai sekarang ini hanya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang memperhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika hal ini berlanjut terus maka akan menjadikan manusia kurang humanis atau manusiawi.
Dari titik pandang sosio-anthropologis, menurutnya bahwa kekhasan manusia yang membedakannya dengan makhluk lain adalah bahwa manusia itu berbudaya, sedangkan makhluk lainnya tidak berbudaya. Maka salah satu cara yang efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan mengembangkan kebudayaannya. Persoalannya budaya dalam masyarakat itu berbeda-beda. Dalam masalah kebudayaan berlaku pepatah:”Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.” Maka manusia akan benar-benar menjadi manusia kalau ia hidup dalam budayanya sendiri. Manusia yang seutuhnya antara lain dimengerti sebagai manusia itu sendiri ditambah dengan budaya masyarakat yang melingkupinya.
Ki Hajar Dewantara sendiri dengan mengubah namanya ingin menunjukkan perubahan sikapnya dalam melaksanakan pendidikan yaitu dari satria pinandita ke pinandita satria yaitu maksudnya dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berjiwa ksatria. Yang mana jika sikap pendidikan kita seperti ini maka dapat mempersiapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan negara (nasionalisme). Bagi Ki Hajar Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Dengan kata lain, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figure keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar.
Jadi sudah saatnya kita kembali pada esensi yang diperjuangkan oleh bapak pendidikan nasional kita. Bahwa idealnya pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan. Pendidikan hendaknya memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan harga diri, dan setiap orang harus hidup sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya. Peserta didik yang dihasilkan adalah peserta didik yang berkepribadian merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, menjadi anggota masyarakat yang berguna, dan bertanggungjawab atas kebahagiaan dirinya dan kesejahteraan orang lain.
Metode yang yang sesuai dengan sistem pendidikan ini adalah sistem among yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love). Yang dimaksud dengan manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaannya dan yang mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Oleh karena itu bagi Ki Hajar Dewantara pepatah ini sangat tepat yaitu “educate the head, the heart, and the hand”.
Sedangkan seorang guru yang efektif harus memiliki keunggulan dalam mengajar (paedagogik), sikap yang menjadi teladan bagi peserta didik (personal), hubungan (relasi dan komunikasi) dengan peserta didik dan anggota komunitas sekolah, dan juga relasi dan komunikasinya dengan pihak lain seperti orang tua, komite sekolah, pihak terkait (sosial), segi administrasi sebagai guru dan sikap profesionalitasnya (profesional). Sikap-sikap profesional itu meliputi antara lain: keinginan untuk memperbaiki diri dan keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman. Maka tidak kalah penting bahwa upaua membangun suatu etos kerja yang positif sangat diperlukan yaitu, seperti menjunjung tinggi pekerjaan, menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan, dan keinginan untuk melayani masyarakat. Dalam kaitan dengan ini penting juga penampilan (performance) seorang profesional baik dari segi fisik, intelektual, relasi sosial, kepribadian, nilai-nilai dan kerohanian serta mampu menjadi motivator.
Singkatnya, bahwa dalam dunia pendidikan perlu adanya peningkatan mutu kinerja yang profesional, produktif dan kolaboratif demi pemanusiaan secara utuh setiap peserta didik. Dan pendidikan harus dapat menjadi wadah yang bukan hanya mengembangkan kemampuan daya cipta (kognitif) namun secara karsa (afektif) dan karya (psikomotorik) harus proposional. Mari bersama-sama kita sebagai calon pendidik harus terus memperjuangkan pedidikan Indonesia agar lebih memanusiakan manusia, membudayakan bangsa, dan mengindonesiakan nusantara. Agar hari pendidikan nasioanal bukan hanya sekedar sebuah peringatan (efouria) yang tidak mempunyai nilai kemajuan dan kejayaan untuk pendidikan Indonesia tercinta. Sudah saatnya Indonesia berdiri di atas kaki sendiri dengan sebuah kesejahteraan sejati bagi seluruh masyarakat Indonesia raya.



Baca Juga :



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...