Khataman dan Imtihan

Khataman dan Imtihan
Tampilkan postingan dengan label KI HAJAR DEWANTARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KI HAJAR DEWANTARA. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 April 2013

Redefinisi Teori Among Ki Hajar Dewantara



Redefinisi Teori Among Ki Hajar Dewantara


Ki Hajar Dewantara selaku tokoh pendidikan Indonesia berpendapat bahwa perkembangan anak didik mulai dari lahir hinga dewasa dibagi atas fase-fase. Ada fase yang merupakan periode amat penting bagi perkembangan badan dan pandca indra. Ada fase yang merupakan masa perkembangan untuk daya-daya jiwa terutama pikiran anak, dan ada pula fase tentang penyesuaian diri dengan masyarakat di mana anak mengambil bagian sesuai dengan cita-cita hidupnya. Adanya periodisasi masa perkembangan itu juga kita temui pula pada teori-teori yang dikemukakan oleh ahli lain.
Namun pada intinya teori apapun tentang perkembangan manusia tidak lepas dari gambaran bahwa anak merupakan bagian dari keluarga dan masyarakat. Dalam arti bahwa kecepatan atau kelambanan anak dalam menjalani masa perkembangannya sangat tergantung dari bagaimana pengaruh lingkungan sosialnya. Sebenarnya banyak teori tentang pengkajian pendidikan sebagai bagian dari hasil cipta dari Ki Hajar dewantara, yang kesemuanya itu merupakan gambaran dari kreativitas Ki Hajar sebagai pemikir sekaligus praktisi pendidikan pada jamannya dulu.

Sebagai contoh adalah adalah sistem among. Seperti diketahui bahwa sistem among yang dicetuskan oleh ki Hajar antara lain berbunyi: Ing ngarso sung tulodho (di depan harus dapat memberi contoh yang baik), Ing madyo mangun karso (di tengah harus dapat membangun), dan Tut wuri Handayani (di belakang harus dapat mendorong dan memberi semangat). 

Sistem Among menuntut kesabaran dalam penerapannya
Nampak dalam teori ini Ki Hajar berusaha memberikan gambaran ideal tentang peran manusia dalam segala lini. Dalam konsep among ini manusia ideal adalah orang yang dapat memerankan diri (menyesuaikan diri) sedang berada pada peran yang bagaimanakah dia. Apakah di depan, di tengah atau di belakang.
Dan dalam setiap kondisi di depan, di tengah maupun di belakang itu orang ideal ini harus dapat memberikan peran yang berarti bagi orang lain di sekitarnya. Bukan main memang teori among ini. Ki Hajar Dewantara memang telah membuktikan sebagai figur yang dapat dipandang sebagai panutan bagi insan pendidikan di Indonesia, bahkan di dunia. Pada sisi lain jiwa kepahlawanan Ki Hajar juga sulit ditandingi oleh tokoh pendidikan lainnya.
Banyak teori yang dihasilkan oleh Ki Hajar Dewantara ini diciptakan beliau pada jaman penjajahan atau jaman perjuangan. Permasalahannya adalah apakah konteks perjuangan yang dikemukakan beliau pada jaman dahulu tetap relevan dengan jaman sekarang. Sebab perjuangan pada jaman dulu diartikan sebagai perang melawan penjajah. Sedang dalam konteks sekarang perjuangan lebih merupakan berjuang untuk mencapai prestasi.
Untuk ukuran jaman yang semakin maju ini banyak nilai-nilai tradisional yang memerlukan redefinisi pada tataran penerapan. Banyak aspek dalam nilai tradisional yang kurang terbuka terhadap inovasi (pembaharuan) yang sedang berkembang. Hal ini apabila dibiarkan jelas sangat mempengaruhi daya kreativitas masyarakat kita.
Dalam perspektif sosial budaya, kreativitas dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi, sosial, politik dan sejarah. Iklim kehidupan sosial budaya favourable memungkinkan kreativitas tumbuh subur. Sebaliknya iklim sosial budaya yang mengekang dan kurang menjamin rasa aman mengakibatkan kreativitas terhambat.
Tidak mengherankan jika sering para pemuda kita ketinggalan dengan kemajuan pemuda dari bangsa-bangsa lain. Agaknya pengaruh penjajahan yang terlalu lama menyebabkan generasi tua kita selalu menaruh curiga tehadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi Ki Hajar dewantara pada saat berjuang di bidang pendidikan. Namun semakin banyak tantangan yang dihadapi maka semakin besar pula keyakinan Ki Hajar bahwa tidak ada cara lain untuk membebaskan kebodohan Bangsa Indonesia saat itu selain dengan cara mendirikan sekolah untuk masyarakat golongan rendah. Ki Hajar Dewantara merupakan figur yang dapat dipandang sebagai panutan bagi insan pendidikan di Indonesia.
Terutama yang patut menjadi tauladan adalah jiwa kepahlawanannya yang sulit ditandingi oleh tokoh pendidikan lainnya. Sebagai contoh konkrit dari kepahlawanan beliau adalah berdirinya perguruan Taman Siswa pada masa penjajahan Belanda. Meskipun berbagai tantangan menghadang di depan, namun cita-cita mulia untuk mencerdaskan bangsa itu tidak surut sedikitpun. Bahkan justru semakin bersemangat untuk melangkah maju.
1. Pandangan Ki Hajar tentang Keluarga
Di dalam keluarga anak pertama-tama belajar memperhatikan keinginan-keinginan orang lain, belajar bekerja sama, bantu membantu. Di sinilah berarti dia sudah belajar untuk menjadi makhluk sosial. Pengalaman dalam interaksi keluarga turut membantu cara-cara untuk bertingkah laku nyata dalam masyarakat kelak.
Apabila interaksi sosial anak dalam keluarga kurang baik, maka kemungkinan besar interaksi anak dalam masyarakat pada umumnya juga kurang baik. Jadi di samping fungsinya dalam peranan umum, keluarga juga merupakan kerangka sosial yang pertama, yaitu tempat manusia belajar berkembang sebagai makhluk sosial.
Sesuai dengan sifat pendidikan keluarga, orang tua adalah pendidik pertama, utama dan kodrat. Wewenang secara kodrat yang dimiliki orang tua dalam mendidik anaknya tidak dapat diganggu gugat sebab anak adalah hak orang tua. Tetapi karena alasan-alasan tertentu hak orang tua ini dapat dicabut, misalnya karena orang tuia menjadi gila.
Kehidupan keluarga penuh dengan sikap gotong royong serta toleransi. Juga keluarga merupakan peletak dasar utama bagi pendidikan keagamaan. Di samping itu juga pendidikan budi pekerti, tertanam dalam lingkungan keluarga secara kuat dan murni, sehingga tidak dapat pusat-pusat pendidikan lain menyamainya.
2. Pandangan Ki Hajar tentang Pendidikan
Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara kedewasaan bisa diartikan sebagai kesempurnaan hidup yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang selaras dengan alamnya dan masyarakat. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan secara umum sebagai daya upaya untuk mewujudkan perkembangan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intelek) dan jasmani anak, menuju ke arah masa depan yang lebih baik.
Kedewasaan akan tercapai pada akhir windu ketiga, yaitu tercapainya kesempurnaan hidup selaras dengan alam anak dan masyarakat. Jadi dapat diartikan bahwa pendidikan terutama berlangsung sejak anak lahir hingga anak berusia sekitar 24 tahun.
“Ki Hajar menyetujui teoti Konvergensi, dimana perkembangan manusia itu ditentukan oleh dasar (nature) dan ajar (nurture). Anak yahng baru lahir diibaratkan kewrtas putih yang sudah ada tulisannya, tetapi belum jelas”, (Suwarno, 1995: 30).
Selanjutnya Ki Hajar juga berpendapat bahwa perkembangan anak didik mulai dari lahir hinga dewasa dibagi atas fase-fase sebagai berikut: (1) Jaman Wiraga (0-8 th) merupakan periode yang amat penting bagi perkembangan badan dan pandca indra. (2) Jaman Wicipta (8-16 th) merupakan masa perkembangan untuk daya-daya jiwa terutama pikiran anak, dan (3) Jaman wirama (16-24 th): masa untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat di mana anak mengambil bagian sesuai dengan cita-cita hidupnya.
Selain itu ajaran beliau yang tidak kalah penting adalah yang dikenak sebagai sistem among, yang antara lain berbunyi:
1. Ing ngarso sung tulodho:
Artinya sebagai pemimpin apabila sedang di depan harus dapat memberi contoh yang baik, yang meliputi kebaikan budi pekertinya, kepandaiannya, dan keterampilannya.
2. Ing madyo mangun karso:
Artinya sebagai pemimpin apabila sedang berada di tengah harus dapat membangun, bergotong royong bersama dengan orang-orang yang dipimpinnya. Tidak hanya bisa memerintah, namun juga harus dapat dan mau “tandang gawe”, yaitu diperintah oleh kemauannya sendiri.
3. Tut wuri Handayani:
Artinya sebagai pemimpin apabila sedang berada di belakang harus dapat mendorong dan memberi semangat (nyurung karep) kepada semua teman-temannya.
Menurut Ki Hajar rasa cinta, rasa bersatu, perasaan serta keadaan jiwa pada umumnya, sangat bermanfaat untuk berlangsungnya suatu proses pendidikan.
3. Pandangan Ki Hajar tentang Faktor Pembawaan
Faktor pembawaan dimaksudkan segala sesuatu yang dibawa sejak anak itu lahir, yang oleh K.H. Dewantara disebut factor dasar. Factor dalam (pembawaan) ini meliputi :
a) Pembawaan Phisik
Yakni, bagaimana tentang keadaan tubuh seseorang yang dibawa sejak ia dilahirkan.
Misalnya:
bagaimana konstitusi atau bentuk tubuhnya, gemuk atau kurus, tinggi atau pendek, sampai pada jenjang pendeknya leher, besar kecilnya tengkorak, antara lain:
- susunan urat syaraf, tulang-tulang, otot-otot,
- cacad sejak lahir atau tidak
- mempunyai penyakit keturunan atau tidak
- phisik dapat tumbuh dengan normal atau tidak
- sehat atau sakit-sakitan, dan sebagainya.
b) Pembawaan Kejiwaan (Psikis)
Yakni, bagaimana tentang kejiwaan (kondisi psikis) seseorang sejak dilahirkan.
Misalnya :
- berpembawaan cerdas atau tidak
- IQ-nya tinggi, rendah atau sedang
- Sehat mentalnya atau tidak, mungkin berpenyakit jiwa atau memiliki kelainan-kelainan jiwa, dan sebagainya
- Adakah potensi (kecakapan-kecakapan) khusus yang perlu dikembangkan: jiwa seni mengarang, melukis, melawak, menyanyi, dan sebagainya.


SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Bapak Pendidikan Nasional "Ki Hajar Dewantara"

Mengenang Bapak Pendidikan Nasional "Ki Hadjar Dewantara"

Ki Hajar Dewantara
Setiap tanggal 2 Mei, rakyat Indonesia memperingati hari “Pendidikan Nasional”, tapi apakah kita semua mengetahui sejarah mengapa Hari Pendidikan Nasional itu harus diperingati? Apakah putra putri Indonesia penerus perjuangan bangsa mengenal siapa pahlawan dibalik itu semua?
Marilah kita sejenak menengok ke belakang dimana sejarah kehidupan dan perjalanan tokoh bangsa ini dalam menggeluti bidang pendidikan.
Tokoh pendidikan itu bernama Ki Hajar Dewantara, lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Ia terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, dan berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya, dengan harapan dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.
Perjalanan hidup Ki Hadjar Dewantara benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsa. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda), kemudian melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Ki Hadjar Dewantara kemudian bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia,  Kaoem Moeda,  Tjahaja Timoer  dan  Poesara.  
Pada masanya,  Ki Hadjar Dewantara tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.
Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, Ki Hadjar Dewantara juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.

Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka.
Setelah zaman kemedekaan, Ki Hadjar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957.
Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia pada t28 April 1959 di Yogyakarta.
Guna melestarikan nilai-nilai semangat Ki Hadjar Dewantara, pengurus perguruan Taman Siswa mendirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta. Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional.
Itulah selintas sejarah kehidupan dan perjalanan Bapak Pendidikan kita Ki Hadjar Dewantara, seorang pahlawan yang begitu gigih memperjuangan pendidikan di tanah air tercinta ini. Buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan ialah memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.
Ajaran Ki Hadjar Dewantara yang terkenal ialah Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), dan Ing Ngarsa Sungtulada (di depan memberi teladan).
Ki Hadjar Dewantara memang kini telah tiada, namun perjuangannya sampai saat ini tak pernah kunjung padam. Pendidikan di ranah negeri ini semakin maju mengikuti alur zaman. Kini putra putri Indonesia begitu banyak yang berprestasi dan menggoreskan tinta emas dalam mengukir prestasi di bidangnya masing-masing. Banyak juga putra putri Indonesia yang telah mengangkat martabat Indonesia di mata dunia dengan keahlian pendidikan yang mereka punya. Meraka tak kalah dengan puta-putri negara-negara lain. Jayalah Pendidikan Indonesia, jayalah putra putrid Indonesia. 

Minggu, 28 April 2013

KONSEP PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA


KONSEP PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA; ALTERNATIF SEBAGAI LANDASAN MEWUJUDKAN CITA-CITA PENDIDIKAN INDONESIA YANG HUMANIS







Ki Hadjar Dewantara merupakan tokoh pendidikan nasional, yang perjuangannya dalam dunia pendidikan sangat bermakna bagi kemerdekaan Bangsa Indonesia. Ki Hajar Dewantara Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Lahir dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Beliau berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, disaat itu beliau berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, beliau tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Dengan perjuangan jasa-jasa beliau dulu yang sangat hebat memperjuangkan pendidikan yang merata untuk semua rakyat dan humanis, maka agar untuk mengenang perjuangan beliau yang gigih kemudian kelahirannya beliau dijadikan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) yang biasa kita peringati pada tanggal 2 Mei setiap tahunnya. Hal ini telah menjadi momentum spesial untuk memperingatkan kepada segenap masyarakat negeri akan pentingnya arti dan esensi pendidikan bagi anak negeri yang sangat kaya ini.
Cermin Pendidikan di Indonesia.
Pada tahun 2003, telah dilahirkan Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional melalui UU No. 20 tahun 2003 yang menggantikan UU No. 2 tahun 1989. Tersurat jelas dalam UU tersebut bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.
Ironinya, bahwa pendidikan pada saat ini telah bergeser dari apa yang di amanatkan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional, mengapa demikian? Karena pendidikan sekarang ini sudah menjadi sebuah lahan industri baru yang baru. Bukan lagi sebagai sebuah upaya pembangkitan kesadaran kritis dan sebagai tempat pengembangan potensi-potensi manusia. Sehingga hal ini mengakibatkan terjadinya praktek jual-beli gelar, jual-beli ijasah hingga jual-beli nilai pelajaran (komersialisasi pendidikan). Belum lagi biaya pendidikan sekarang semakin tahun semakin mahal saja, hal tersebut diakibatkan kurangnya dukungan pemerintah terhadap kebutuhan tempat belajar yang layak dan murah. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan banyak tumbuhnya bisnis-bisnis pendidikan yang mau tidak mau semakin membuat rakyat miskin yang tidak mampu semakin terpuruk dan sulit untuk mengakses pendidikan. Karena pendidikan hanyalah bagi mereka yang telah memiliki ekonomi yang kuat, sedangkan bagi kalangan miskin, pendidikan hanyalah sebuah mimpi. Ironinya, ketika ada inisiatif untuk membangun wadah-wadah pendidikan alternatif, sebagian besar dipandang oleh oknum pemerintah sebagai bentuk dan upaya membangun pemberontakan.
Sementara di berbagai daerah, pendidikan pun masih berada dalam kondisi keprihatinan. Mulai dari kekurangan tenaga pengajar, fasilitas pendidikan sampai membuat sukarnya masyarakat untuk mengikuti pendidikan karena permasalahan ekonomi dan kebutuhan hidup. Pada beberapa wilayah, banyak anak-anak yang memiliki keinginan untuk bersekolah, namun mereka harus rela membantu keluarganya untuk mencukupi kebutuhan hidup untuk makan, beli pakaian, dan lain-lain, contohnya saja dapat kita lihat di perempatan-perempatan jalan kota banyak anak-anak kecil yang sewajarnya masih bersenang-senang beramain dengan teman sebayanya dan belajar, harus berganti profesi menajdi peminta-minta atau pengamen di jalanan. Sungguh sangat tidak manusiawi dan ironinya pemerintahpun masih cuek-cuek saja dengan realitas seperti itu. Artinya, bahwa oknum pemerintahan SBY-Budiono telah gagal untuk mencapai kesejahteraan rakyat dan mewujudkan tujuan pendidikan. Belum lagi bila berbicara pada kualitas pendidikan Indonesia yang hanya berorientasi pada pembunuhan kreatifitas berpikir dan berkarya. Sedangkan kurikulum yang ada dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini memang dapat membuat peserta didik menjadi pintar namun tidak menjadi cerdas, kreatif dan terampil. Pembunuhan kreatifitas ini disebabkan pula karena paradigma pemerintah Indonesia yang mengarahkan masyarakatnya pada penciptaan tenaga kerja untuk pemenuhan kebutuhan industri yang sedang gencar-gencarnya ditumbuh suburkan di Indonesia.
Sistem pendidikan nasional yang telah berlangsung hingga saat ini masih cenderung mengeksploitasi pemikiran peserta didik. Indikator yang dipergunakanpun cenderung menggunakan indikator kepintaran (kognitif), sehingga hanya keberhasilan belajar dilihat dari nilai di dalam rapor maupun ijasah tidak serta merta menunjukkan peserta didik akan mampu bersaing maupun bertahan di tengah gencarnya industrialisasi yang berlangsung saat ini. Menurut Prof. Dr. Sutrisno dalam perkulihan filsafat pendidikan pernah menyampaikan bahwa kemampuan pengetahuan kognitif (hard skill) dan kemampuan ketrampilan hidup (soft skill) itu lebih banyak berguna kemampuan soft skill nya, jika dipresentasekan maka hard skill hanya berpengaruh 20% dan 80% nya adalah soft skill. Jika saya meminjam kata-kata dari (Martin Luther King) “Aku tidak peduli berapa lama aku akan hidup dalam sistem ini. Aku akan tidak pernah menerimanya. Aku akan perangi sistem ini sampai mati.” Jadi sudah menjadi keniscayaan bagi dunia pendidikan harus merekonstruksi sistem pendidikan nasional dan kurikulumnya yang sudah gagal dan tidak relevan dengan dunia sekarang. Menuju pada sitem pendidikan nasional yang representatif dengan kebutuhan masyarakat dan tekanan perkembangan zaman globalisasi sekarang ini.
Sorot Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Dalam bentuk perkulihan apapun yang pembahasan tentang pendidikan penulis belum pernah menjumpai pembahasan mengenai konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara. Kabanyakan yang dipakai adalah konsep pendidikan ala barat, Padahal kita semua mengetahui bahwa beliau adalah bapak pendidikan nasional, yang mana beliau adalah seorang pemikir pendidikan asli Indonesia yang telah memperjuangkan pendidikan untuk rakyat dan beliau juga lebih mengetahui harus bagaimana konsep pendidikan untuk Indonesia itu sendiri yang sesuai dengan konteks realita di Indonesia.
Dalam berbagai tulisan tentang pendidikan yang ditulis oleh Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan harus dimulai dari persamaan persepsi pemangku pendidikan tentang mendidik itu sendiri. Menurut Ki Hajar Dewantara mendidik dalam arti yang sesungguhnya adalah proses memanusiakan manusia (humanisasi), yakni pengangkatan manusia ke taraf insani. Di dalam mendidik ada pembelajaran yang merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik kepada manusia, untuk dimiliki, dilanjutkan dan disempurnakan. Jadi sesungguhnya pendidikan adalah usaha bangsa ini membawa manusia Indonesia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual-transenden dari sifat alami manusia (humanis). Ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantoro yang sangat poluler di kalangan masyarakat adalah Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani. Adapun pemikiran beliau melihat pendidikan dari 2 (dua) sudut pandang antara lain:
Dari sudut pandang psikologis, menurut beliau bahwa manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya (humanisasi) ini harus menuntut pengembangan semua daya secara seimbang (proposional). Karena jika pengembangan yang hanya menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidak-utuhan perkembangan sebagai manusia (dehumanisasi). Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Dan ternyata pendidikan sampai sekarang ini hanya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang memperhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika hal ini berlanjut terus maka akan menjadikan manusia kurang humanis atau manusiawi.
Dari titik pandang sosio-anthropologis, menurutnya bahwa kekhasan manusia yang membedakannya dengan makhluk lain adalah bahwa manusia itu berbudaya, sedangkan makhluk lainnya tidak berbudaya. Maka salah satu cara yang efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan mengembangkan kebudayaannya. Persoalannya budaya dalam masyarakat itu berbeda-beda. Dalam masalah kebudayaan berlaku pepatah:”Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.” Maka manusia akan benar-benar menjadi manusia kalau ia hidup dalam budayanya sendiri. Manusia yang seutuhnya antara lain dimengerti sebagai manusia itu sendiri ditambah dengan budaya masyarakat yang melingkupinya.
Ki Hajar Dewantara sendiri dengan mengubah namanya ingin menunjukkan perubahan sikapnya dalam melaksanakan pendidikan yaitu dari satria pinandita ke pinandita satria yaitu maksudnya dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berjiwa ksatria. Yang mana jika sikap pendidikan kita seperti ini maka dapat mempersiapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan negara (nasionalisme). Bagi Ki Hajar Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Dengan kata lain, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figure keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar.
Jadi sudah saatnya kita kembali pada esensi yang diperjuangkan oleh bapak pendidikan nasional kita. Bahwa idealnya pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan. Pendidikan hendaknya memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan harga diri, dan setiap orang harus hidup sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya. Peserta didik yang dihasilkan adalah peserta didik yang berkepribadian merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, menjadi anggota masyarakat yang berguna, dan bertanggungjawab atas kebahagiaan dirinya dan kesejahteraan orang lain.
Metode yang yang sesuai dengan sistem pendidikan ini adalah sistem among yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love). Yang dimaksud dengan manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaannya dan yang mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Oleh karena itu bagi Ki Hajar Dewantara pepatah ini sangat tepat yaitu “educate the head, the heart, and the hand”.
Sedangkan seorang guru yang efektif harus memiliki keunggulan dalam mengajar (paedagogik), sikap yang menjadi teladan bagi peserta didik (personal), hubungan (relasi dan komunikasi) dengan peserta didik dan anggota komunitas sekolah, dan juga relasi dan komunikasinya dengan pihak lain seperti orang tua, komite sekolah, pihak terkait (sosial), segi administrasi sebagai guru dan sikap profesionalitasnya (profesional). Sikap-sikap profesional itu meliputi antara lain: keinginan untuk memperbaiki diri dan keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman. Maka tidak kalah penting bahwa upaua membangun suatu etos kerja yang positif sangat diperlukan yaitu, seperti menjunjung tinggi pekerjaan, menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan, dan keinginan untuk melayani masyarakat. Dalam kaitan dengan ini penting juga penampilan (performance) seorang profesional baik dari segi fisik, intelektual, relasi sosial, kepribadian, nilai-nilai dan kerohanian serta mampu menjadi motivator.
Singkatnya, bahwa dalam dunia pendidikan perlu adanya peningkatan mutu kinerja yang profesional, produktif dan kolaboratif demi pemanusiaan secara utuh setiap peserta didik. Dan pendidikan harus dapat menjadi wadah yang bukan hanya mengembangkan kemampuan daya cipta (kognitif) namun secara karsa (afektif) dan karya (psikomotorik) harus proposional. Mari bersama-sama kita sebagai calon pendidik harus terus memperjuangkan pedidikan Indonesia agar lebih memanusiakan manusia, membudayakan bangsa, dan mengindonesiakan nusantara. Agar hari pendidikan nasioanal bukan hanya sekedar sebuah peringatan (efouria) yang tidak mempunyai nilai kemajuan dan kejayaan untuk pendidikan Indonesia tercinta. Sudah saatnya Indonesia berdiri di atas kaki sendiri dengan sebuah kesejahteraan sejati bagi seluruh masyarakat Indonesia raya.



Baca Juga :



Sejarah Perjuangan Ki Hajar Dewantara



Sejarah Perjuangan Ki Hajar Dewantara



Sejarah Perjuangan Ki Hajar Dewantara- Setiap memperingati hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei kita diingatkan pada Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara yang terkenal karena perjuangan untuk pendidikan kaum pribumi dengan mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta.
Sejarah Perjuangan Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun; selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Departemen Pendidikan Nasional. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah.

MASA MUDA DAN AWAL KARIR

Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.

AKTIVITAS PERGERAKAN

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.

Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.

TAMAN SISWA

Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922: Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.

Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. ("di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang mendukung"). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.

PENGABDIAN DI MASA INDONESIA MERDEKA

Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, KHD diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (posnya disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan) yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959).
Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959.



Terima kasih telah berkunjung ke blog  ini.




Sumber : Wikipedia 

SERBA SERBI


PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA / Ki Hajar Dewantara


Biografi Ki Hajar Dewantara


                                                                                   
Nama: Ki Hajar Dewantara
Gelar: Pahlawan Kemerdekaan Nasional
Dasar Hukum: Kepres No.305 Tahun 1959 tanggal 28 November 1959
Lahir: Yogyakarta, 2 Mei 1889
Wafat: Yogyakarta, 28 April 1959
Makam: Yogyakarta
R.M. Suwardi Suryaningrat, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara, lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Sesudah menamatkan Sekolah Dasar, ia melanjutkan pelajaran ke STOVIA di Jakarta, tetapi tidak sampai selesai. Sesudah itu, ia bekerja sebagai wartawan, membantu beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, dan Utusan Hindia. Bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo, pada tanggal 25 Desember 1912 ia mendirikan Indische Partij yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Pada tahun 1913 ia ikut membentuk Komite Bumiputra. Melalui komite itu dilancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dan penjajahan Prancis. Karangannya yang berjudul Als Ik een Nederlander was (Seandainya Aku Seorang Belanda), berisi sindiran dan kecaman yang pedas. Akibatnya, pada bulan Agustus 1913 ia dibuang ke negeri Belanda. Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga ia berhasil memperoleh Europeesche Akte.

Setelah kembali ke tanah air pada tahun 1918, ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan. Pada tanggal 3 Juli 1922 didirikannya
Taman Siswa, sebuah perguruan yang bercorak nasional. Kepada anak didik ditanamkan rasa kebangsaan agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Banyak rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa, antara lain adanya Ordonansi Sekolah Liar yang dikeluarkan oleh Pemerintah Belanda. Tetapi, berkat perjuangan Ki Hajar Dewantara, ordonansi itu dicabut kembali.

Pada masa Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan Ki Hajar Dewantara. Waktu Pemerintah Jepang membentuk
Pusat Tenaga Rakyat (Putera) pada tahun 1943, ia duduk sebagai salah seorang pemimpinnya di samping Ir. Sukarno, Drs. Muhammad Hatta, dan K.H. Mas Mansur. Jabatan yang pernah dipegangnya setelah Indonesia merdeka ialah Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan.
Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai
Bapak Pendidikan Nasional dan pendiri Taman Siswa. Ajarannya yang terkenal ialah Tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sung tulada, artinya: di belakang memberi dorongan, di tengah memberi teladan.

Ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana. Hari lahir Ki Hajar Dewantara, tanggal 2 Mei, diperingati sebagai
Hari Pendidikan Nasional. 


Baca Juga :


Mohon Maaf Bila Terjadi Kesalahan Dalam Input Data
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Edy_Hari_Yanto's  album on Photobucket